Close Menu
Publik NewsPublik News
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • DAERAH
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • DAERAH
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Beranda » Blog » Tanah Jarang Sulawesi Barat, Berkah atau Bom Waktu? Potensi Raksasa Mamuju di Ujung Tombak
    OPINI

    Tanah Jarang Sulawesi Barat, Berkah atau Bom Waktu? Potensi Raksasa Mamuju di Ujung Tombak

    Agustus 31, 2026
    Facebook WhatsApp Twitter Telegram
    Ilustrasi potensi Logam Tanah Jarang (Rare Earth) primer di kawasan batuan vulkanik Adang, Mamuju, Sulawesi Barat yang diproyeksikan jadi pusat hilirisasi nasional. (Ilustrasi: AI/Publiknews.co.id)
    Share
    Facebook WhatsApp Twitter Email

    PUBLIKNEWS.CO.ID, MAMUJU – Jika nikel membuat Morowali mendunia, maka Mamuju bisa menjadi Morowali berikutnya. Namun dengan taruhan yang jauh lebih besar dan berbahaya.

    Dalam Retreat Pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat di Korem 142 Tatag, Mamuju, 18 Juli 2025 lalu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman secara tegas menyebut Sulawesi Barat memiliki potensi besar Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth yang akan dikembangkan untuk industri teknologi ramah lingkungan.

    Pernyataan itu bukan gimmick. Data geologi nasional membenarkannya.

    Indonesia selama ini a mengenal LTJ sebagai mineral ikutan dari timah dan bauksit. Namun temuan di Mamuju adalah anomali. Chairman Indonesia Mining Institute sekaligus Guru Besar ITB, Prof. Irwandy Arif, dalam forum Badan Industri Mineral (BIM) menegaskan Indonesia baru menemukan satu sumber LTJ primer di Mamuju, Sulawesi Barat. Artinya, LTJ di sana adalah produk utama, bukan sampingan.

    Mengapa Mamuju? Awalnya kawasan ini diteliti BATAN karena anomali radioaktifnya yang termasuk tertinggi di Indonesia. Dari situlah terungkap, di balik batuan Gunung Api Adang yang langka dan memiliki alkali tinggi, tersimpan cadangan LTJ yang sangat prospektif.

    Pakar Geologi UGM, Dr. Lucas Donny Setijadji bahkan menyebut Mamuju sebagai lokasi paling prospektif dan direncanakan menjadi pilot project hilirisasi logam tanah jarang nasional. Pemerintah sendiri telah mengidentifikasi 8 blok tanah jarang di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

    Ini adalah mineral masa depan. LTJ adalah jantung kendaraan listrik, ponsel, satelit, hingga mesin jet tempur dan rudal pertahanan.

    Antara Berkah Ekonomi dan Kutukan Ekstraktif

    Potensi ini bisa mengubah Sulbar dari provinsi termiskin di Sulawesi menjadi hub industri hijau dunia. Janji pembangunan pabrik di Polewali Mandar dan Mamuju Tengah agar tidak lagi menjual bahan mentah adalah langkah yang tepat.

    Namun kita harus jujur, hingga hari ini Indonesia belum memiliki IUP khusus untuk LTJ. Pemerintah sengaja hati-hati karena ini adalah kekayaan strategis negara amanat Pasal 33 UUD 1945.

    Kehati-hatian itu jangan sampai kalah oleh nafsu investor. Jangan sampai Sulbar mengulangi kutukan nikel: daerahnya dikeruk, rakyatnya hanya jadi penonton dan buruh di tanah sendiri.

    Bom Waktu Lingkungan yang Paling Serius

    Ini yang paling krusial. Pakar UGM mengingatkan, tantangan terbesar LTJ bukan menemukan, tapi mengolahnya. “Logam tanah jarang kerap berasosiasi dengan unsur radioaktif dan memiliki karakter mineral yang berbeda di setiap lokasi sehingga membutuhkan metode pengolahan yang sangat spesifik.”

    Artinya, jika ekstraksi di Mamuju dilakukan dengan teknologi abal-abal, yang terjadi adalah bencana:

    1. Limbah radioaktif Thorium dan Uranium yang mencemari sungai dan kebun kakao dan pisang warga. 2. Penggunaan asam sulfat dan kimia keras dalam jumlah masif. 3. Deforestasi di wilayah Mamasa dan Rantedoda yang selama ini bahkan untuk inventarisasi saja sulit diakses.

    Mamuju memiliki latar radiasi alam tinggi. Salah kelola, yang kita panen bukan mobil listrik, tapi krisis kesehatan.

    Tuntutan untuk Sulbar

    Sebagai penulis, saya tidak anti-tambang. Tapi ada 4 syarat mutlak jika LTJ Mamuju harus dibuka:

    1. Hilirisasi Wajib di Sulbar. Jangan kirim raw material ke luar. Pabrik pemisahan dan pabrik magnet harus dibangun di Mamuju. Nilai tambahnya harus tinggal di Sulbar. 2. Libatkan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Jangan hanya ITB dan UGM. Unsulbar harus menjadi pusat riset Batuan Adang. Ini soal kedaulatan pengetahuan. 3. Keterbukaan Data Radiologi. Sebelum IUP terbit, publikasikan secara terbuka kajian AMDAL radiologi. Berapa dosis aman untuk pekerja? Bagaimana skema pengelolaan tailing radioaktifnya? 4. Dana Abadi Sulbar. 20% dari royalti LTJ primer harus masuk ke Dana Abadi Daerah untuk beasiswa dan layanan kesehatan gratis anak cucu Sulbar, bukan untuk proyek mercusuar.

    Sulbar hari ini berada di persimpangan sejarah. Di satu tangan kita memegang kunci industri hijau dunia. Di tangan lain, kita memegang bom waktu ekologis.

    Apakah kita akan menjual masa depan dengan harga bahan mentah, atau kita akan menjadi provinsi pertama yang berhasil mengelola tanah jarang secara berdaulat, bersih, dan adil?

    Keputusan itu tidak hanya ada di Jakarta. Ada di Kantor Gubernur Sulbar di Mamuju.‌

    Penulis adalah Jurnalis dan Pimpinan Publiknews.co.id

    Batuan Adang Hamsyah HD Logam Tanah Jarang Mamuju Opini Rare Earth Sulawesi Barat Tambang Sulbar Tanah Jarang
    Share. Facebook WhatsApp Telegram Email Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Negara Tidak Kekurangan Aturan, Tetapi Apakah Rakyat Sudah Merasakan Keadilan?

    Oktober 18, 2026 OPINI

    Rakyat Bukan Penonton Pembangunan

    September 23, 2026 OPINI

    Kayuboko: Ketika Izin Berjalan, Lingkungan Jangan Ditinggalkan

    September 21, 2026 OPINI
    PUBLIK UPDATE

    Baru Sebulan Beroperasi, PT KJP Sumbang PAD Rp600 Juta, Target 2026 Tembus Rp33 Miliar

    Oktober 20, 2026

    Petani Minta KPH Sarudu/Karossa Segera Mediasi Sengketa 20 Ha di Benggaulu

    Oktober 11, 2026

    Silaturahmi ke Bupati Pasangkayu, LSM-DRBI dan IJS Disambut Positif H. Yaumil Adj

    Oktober 19, 2026

    Tanggapan Aduan Petani Sengketa Lahan 20 Hektare, KPH Sarudu/Karossa Siap Mediasi

    Oktober 12, 2026

    Sapu Bersih Narkoba! Polres Pasangkayu Sisir Lokasi Nongkrong Remaja

    Oktober 18, 2026
    INFO DESA
    Info Desa
    Info Desa Oktober 18, 2026

    DARI PENGABDIAN KE PENGABDIAN, MUHAMMAD K., SP MELANGKAH MENUJU PILKADES ONGKO

    Oktober 18, 2026 Info Desa

    Catatan: Abdul Rajab Abduh  Di balik langkah seorang pensiunan PNS menuju kontestasi kepala desa, ada…

    Galung Tuluk, Tradisi Maulid yang Tak Pernah Padam

    September 1, 2026

    Pemdes Bonne – Bonne Realisasikan Pembangunan Talud di Dusun Pullipe 

    Juli 31, 2026

    Ratusan Hektar Sawah Kekeringan di Polman, Bupati Siap Tangani

    Juli 30, 2026
    PUBLIK POPULAR
    banner iklan pasang disini
    PENERBIT : PT PUBLIK PERSADA MEDIA GROUP
    Logo Publik News
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Tentang Kami
    • Pedoman Siber
    • Redaksi
    • Publik News
    © 2026 PUBLIK NEWS by GUZTY.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.