Catatan: Abdul Rajab Abduh
Di balik langkah seorang pensiunan PNS menuju kontestasi kepala desa, ada pengalaman panjang dalam pengabdian dan dukungan keluarga.
Di sebuah desa, pengabdian tidak selalu berakhir ketika masa jabatan atau masa kerja seseorang selesai. Ada pengalaman yang tertinggal, ada harapan yang terus tumbuh, dan ada keinginan untuk melihat masyarakat melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Semangat itulah yang kini mengiringi langkah Muhammad K., SP, seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang maju sebagai calon Kepala Desa Ongko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, dengan nomor urut 3.
Bagi Muhammad, memasuki masa pensiun bukan berarti menutup pintu pengabdian. Justru, pada fase kehidupan yang baru, terbuka kesempatan untuk kembali mengambil bagian dalam pembangunan masyarakat, kali ini melalui pemerintahan desa.
Dengan mengenakan jas hitam dan songkok hitam, Muhammad tampil dalam baliho pencalonannya. Di belakang sosoknya, terbentang lanskap permukiman dan lingkungan Desa Ongko, seolah menjadi pengingat bahwa di sanalah harapan-harapan warga bersemayam.
Tulisan besar pada baliho itu berbunyi, “Merangkul Semua dan Mengedepankan Kepentingan Rakyat.” Sebuah pesan yang menempatkan kepentingan masyarakat sebagai pokok dari perjalanan politik yang sedang ditempuhnya.
Sementara kalimat “Lanjutkan Pemerintahan yang Lebih Baik” menjadi penegas arah yang ingin dibawa dalam kontestasi tersebut.
KETIKA PENGABDIAN MENEMUKAN JALAN BARU
Muhammad bukan sosok yang sepenuhnya asing dengan dunia pengabdian. Sebagai pensiunan PNS, ia telah melewati perjalanan panjang dalam kehidupan kerja dan pelayanan. Kini, ia menghadapi tantangan yang berbeda: membangun kepercayaan masyarakat dan menawarkan gagasan bagi masa depan Desa Ongko.
Pilkades bukan semata-mata tentang siapa yang berdiri di panggung kampanye atau siapa yang paling banyak memasang baliho. Lebih dari itu, pemilihan kepala desa merupakan ruang bagi masyarakat untuk menimbang rekam jejak, gagasan, integritas, serta kesungguhan setiap calon dalam menjawab kebutuhan warga.
Bagi seorang pensiunan PNS yang memilih kembali mengambil peran di ruang publik, tantangannya adalah mengubah pengalaman menjadi gagasan, gagasan menjadi program, dan program menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa besar namanya terpampang di jalan, melainkan seberapa jauh kehadirannya dirasakan oleh warga.DUKUNGAN SAHARIA, DUA PERIODE PENGABDIAN
Ada kisah keluarga yang turut mewarnai langkah Muhammad menuju Pilkades Ongko. Ia adalah suami dari Saharia, kepala desa yang saat ini masih memimpin Desa Ongko dan telah menjalani dua periode masa jabatan.
Dua periode kepemimpinan itu menjadi bagian penting dari perjalanan pemerintahan desa yang kini berada di persimpangan menuju babak berikutnya.
Pada periode ketiga, Saharia mendorong suaminya untuk maju sebagai calon kepala desa. Dukungan tersebut menandai hadirnya sebuah keputusan keluarga yang beririsan langsung dengan masa depan kepemimpinan desa.
Namun, pencalonan Muhammad tetap membawa tanggung jawab tersendiri. Ia harus hadir sebagai pribadi dan calon pemimpin dengan gagasan, kapasitas, serta komitmen yang dapat dinilai secara terbuka oleh masyarakat.
Pengalaman Saharia selama memimpin desa dapat menjadi konteks penting dalam membaca dinamika tersebut. Meski demikian, kepercayaan warga kepada Muhammad pada akhirnya perlu dibangun melalui visi, program, integritas, dan kesanggupannya menjawab persoalan masyarakat.
Dalam demokrasi desa, hubungan keluarga boleh menjadi bagian dari cerita, tetapi pilihan rakyat tetaplah milik rakyat.MERANGKUL SEMUA, BUKAN SEKADAR SLOGAN
Kalimat “Merangkul Semua dan Mengedepankan Kepentingan Rakyat” yang terpampang di baliho Muhammad mengandung pesan tentang pentingnya kebersamaan di tengah perbedaan pilihan.
Dalam kontestasi politik tingkat desa, hubungan antartetangga, persaudaraan, dan ikatan sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Perbedaan dukungan semestinya tidak menjadi alasan untuk memutus silaturahmi.
Karena itu, semangat merangkul semua pihak perlu diterjemahkan ke dalam sikap yang nyata: bersedia mendengar aspirasi warga, menghargai kritik, membuka ruang musyawarah, serta memperlakukan masyarakat secara adil tanpa membedakan pilihan politiknya.
Demikian pula dengan janji untuk melanjutkan pemerintahan yang lebih baik. Pesan itu akan memiliki arti ketika disertai gagasan yang terukur, tata kelola yang transparan, pelayanan publik yang mudah diakses, serta pembangunan yang menjangkau kebutuhan masyarakat secara merata.
Warga tentu tidak hanya menunggu kata-kata indah. Mereka membutuhkan kepastian bahwa persoalan sehari-hari akan didengar dan diperjuangkan.NOMOR URUT 3 DAN HARAPAN YANG MENYERTAINYA
Nomor urut 3 menjadi penanda Muhammad K., SP dalam kontestasi Pilkades Ongko. Di balik angka yang terpampang besar pada baliho itu, terdapat perjalanan seorang pensiunan PNS, dukungan seorang istri yang telah dua periode memimpin desa, dan harapan untuk mengambil bagian dalam masa depan masyarakat.
Tetapi, perjalanan menuju kepemimpinan tidak ditentukan oleh baliho semata. Ia ditentukan oleh bagaimana seorang calon menjelaskan gagasannya, menjawab keraguan warga, dan menunjukkan kesungguhannya dalam menawarkan masa depan yang lebih baik.
Pada akhirnya, Desa Ongko bukan hanya milik calon yang berkontestasi, bukan pula milik keluarga yang pernah atau sedang memegang jabatan. Desa adalah rumah bersama seluruh masyarakatnya.
Siapa pun yang kelak memperoleh kepercayaan rakyat, tugas utamanya tetap sama: menjaga persatuan, memperkuat pelayanan, dan memastikan bahwa pembangunan tidak meninggalkan siapa pun.
Bagi Muhammad K., SP, langkah menuju Pilkades Ongko merupakan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan pengabdian dalam bentuk yang berbeda. Bagi masyarakat, kontestasi ini adalah kesempatan untuk menentukan arah masa depan desa secara demokratis.
Sebab, pengabdian sejati tidak berhenti pada jabatan. Ia hidup dalam kerja nyata, tumbuh melalui kepercayaan, dan dikenang dari manfaat yang ditinggalkan bagi masyarakat.
Dari Desa Ongko, harapan itu kini menunggu untuk diuji, bukan hanya melalui kata-kata di baliho, melainkan melalui gagasan, keteladanan, dan pilihan rakyat.(*”)


