Close Menu
Publik NewsPublik News
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • DAERAH
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • DAERAH
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Beranda » Blog » Galung Tuluk, Tradisi Maulid yang Tak Pernah Padam
    Info Desa

    Galung Tuluk, Tradisi Maulid yang Tak Pernah Padam

    Derak langkah kuda, tabuhan rebana dan lantunan kalindaqda berpadu dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Desa Galung Tuluk
    September 1, 2026
    Facebook WhatsApp Twitter Telegram
    Share
    Facebook WhatsApp Twitter Email

    Catatan : Abdul Rajab Abduh

    Derap kaki kuda memecah suasana sore di Desa Galung Tuluk, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Senin (31/8/2026). Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 Wita ketika 56 Saeyyang Pattu’duq mulai bergerak. Tabuhan rebana mengiringi langkah kuda, sementara lantunan kalindaqda (pantun berbahasa Mandar) mengalun di sepanjang jalan kampung.

    Ratusan mata warga tertuju pada rombongan tersebut. Bukan sekadar parade budaya. Bagi masyarakat Galung Tuluk, Saeyyang Pattu’duq adalah bagian dari ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus cara masyarakat menjaga warisan budaya Mandar agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

    Pelepasan 56 kuda penari dilakukan Camat Balanipa Abdul Malik, didampingi Kapolsek Tinambung dan Kepala Desa Galung Tuluk.

    Ketika Maulid Berubah Menjadi Panggung Budaya

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Galung Tuluk merupakan agenda tahunan yang digelar masyarakat setiap memasuki bulan Rabiul Awal. Namun, bagi warga setempat, Maulid bukan sekadar seremoni keagamaan. Ia adalah momentum ketika agama, tradisi dan kebersamaan masyarakat bertemu dalam satu ruang.

    Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Saeyyang Pattu’duq. Puluhan kuda diarak mengelilingi kampung dengan iringan rebana dan kalindaqda. Di atas punggung kuda, perempuan-perempuan Mandar tampil anggun mengenakan pakaian adat.

    Tradisi tersebut memiliki makna tersendiri. Perempuan yang menunggangi Saeyyang Pattu’duq umumnya merupakan mereka yang telah khatam Al-Qur’an, sehingga keberadaan mereka di atas kuda tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga simbol penghargaan terhadap keberhasilan dalam mempelajari Al-Qur’an.

    Di situlah keunikan budaya Mandar terlihat. Busana adat, kuda penari, rebana, kalindaqda dan nuansa peringatan Maulid berpadu menjadi satu pertunjukan yang menggambarkan kuatnya hubungan masyarakat Mandar dengan Islam.

    Tahun ini, sebanyak 56 Saeyyang Pattu’duq ambil bagian dalam memeriahkan peringatan Maulid Nabi di Galung Tuluk. Jumlah tersebut terdiri dari kuda yang ditunggangi perempuan dan laki-laki.

    Kehadiran puluhan Saeyyang Pattu’duq sekaligus menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam mempertahankan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Mandar.

    Bagi warga, mempertahankan tradisi bukan berarti hidup di masa lalu. Justru melalui tradisi itulah nilai-nilai luhur diwariskan kepada generasi berikutnya. Anak-anak yang menyaksikan parade hari itu belajar mengenal budaya daerahnya. Generasi muda melihat bahwa kebudayaan lokal masih memiliki tempat di tengah kehidupan modern.

    Dan masyarakat kembali diingatkan bahwa Maulid Nabi bukan hanya tentang kemeriahan, tetapi juga tentang menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

    Ketua Panitia Maulid Nabi Muhammad SAW Desa Galung Tuluk, Badaruddin, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang terus dipertahankan masyarakat.

    Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan Maulid tahun ini tidak terlepas dari dukungan dan partisipasi seluruh warga.

    “Alhamdulillah tahun ini ada 56 Saeyyang Pattu’duq yang menyemarakkan peringatan Maulid ini. Terima kasih kami ucapkan kepada semua pihak yang mendukung suksesnya kegiatan ini, dan terkhusus semua warga Desa Galung Tuluk,” ucap Badaruddin.

    Islam dan Budaya dalam Satu Irama. Saeyyang Pattu’duq merupakan salah satu gambaran bagaimana Islam telah menyatu dengan kebudayaan masyarakat Mandar. Kuda menari, rebana berdentang dan kalindaqda mengalun. Semuanya menjadi bahasa budaya yang menyampaikan pesan religius.

    Di tengah parade itu, pakaian adat Mandar yang dikenakan para penunggang kuda menjadi simbol identitas. Sementara tradisi khatam Al-Qur’an menjadi pengingat bahwa di balik keindahan budaya tersebut terdapat nilai pendidikan dan keagamaan.

    Perpaduan itu menghadirkan pesona tersendiri. Budaya Mandar tidak sekadar dipertontonkan. Ia dihidupkan melalui perayaan keagamaan.

    Tradisi yang Tak Boleh Kehilangan Generasi

    Di tengah arus modernisasi, tantangan terbesar sebuah tradisi bukan hanya soal kehilangan bentuknya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika generasi mudanya tidak lagi merasa memiliki. Karena itu, setiap pelaksanaan Saeyyang Pattu’duq sesungguhnya adalah sebuah proses pewarisan.

    Anak-anak melihat, remaja belajar, orang tua menjaga, dan masyarakat bersama-sama memastikan tradisi itu tetap memiliki tempat.

    Sore itu, ketika 56 kuda bergerak mengelilingi kampung, Galung Tuluk seperti sedang memperlihatkan kepada dunia bahwa tradisi masih memiliki denyut kehidupan. Derak kaki kuda menjadi irama, rebana menjadi pengiring, kalindaqda menjadi suara, dan Maulid Nabi menjadi ruhnya.

    Di Galung Tuluk, kecintaan kepada Rasulullah SAW dirayakan melalui bahasa yang paling dekat dengan masyarakat: agama, budaya dan kebersamaan. Sebuah tradisi yang diwariskan dari masa lalu, dirayakan hari ini, dan diharapkan tetap hidup untuk generasi yang akan datang.(**)

    #maulid #polewalimandar #tradisibudaya
    Share. Facebook WhatsApp Telegram Email Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Mohon Keberkahan, Polres Pasangkayu Gelar Sholat Istisqa Bersama Masyarakat

    Oktober 15, 2026 News

    Tim Biddokkes Polda Sulbar Respon Cepat Evakuasi 26 Korban Bus Makassar-Palu Terbalik di Mamuju

    Oktober 11, 2026 DAERAH

    Polsek Bambalamotu Klarifikasi Dugaan yang Viral di Facebook Soal Warga Desa Sarjo

    Oktober 8, 2026 News
    PUBLIK UPDATE

    Petani Minta KPH Sarudu/Karossa Segera Mediasi Sengketa 20 Ha di Benggaulu

    Oktober 11, 2026

    Tanggapan Aduan Petani Sengketa Lahan 20 Hektare, KPH Sarudu/Karossa Siap Mediasi

    Oktober 12, 2026

    Gadai Mobil Rp20 Juta Raib, Dugaan Keterlibatan Oknum TNI‑AD

    September 24, 2026

    DIDUGA JADI SOROTAN: Status 395 Ha HPL di Desa Harapan Luwu Timur Dipertanyakan, Disebut Lahan Kompensasi PLTA Karebbe

    Oktober 5, 2026

    Dugaan Penyimpangan Dana Sekolah SMAN 14 Wajo

    Agustus 14, 2026
    INFO DESA
    Info Desa
    Info Desa September 1, 2026

    Galung Tuluk, Tradisi Maulid yang Tak Pernah Padam

    September 1, 2026 Info Desa

    Catatan : Abdul Rajab Abduh Derap kaki kuda memecah suasana sore di Desa Galung Tuluk,…

    Pemdes Bonne – Bonne Realisasikan Pembangunan Talud di Dusun Pullipe 

    Juli 31, 2026

    Ratusan Hektar Sawah Kekeringan di Polman, Bupati Siap Tangani

    Juli 30, 2026

    Transparansi Dana Desa: Fondasi Kepercayaan dan Kemajuan Desa

    Juli 13, 2026
    PUBLIK POPULAR
    banner iklan pasang disini
    PENERBIT : PT PUBLIK PERSADA MEDIA GROUP
    Logo Publik News
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Tentang Kami
    • Pedoman Siber
    • Redaksi
    • Publik News
    © 2026 PUBLIK NEWS by GUZTY.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.