Oleh: Hamsyah HD
Hari ini, 30 Juli 2026, bangsa Indonesia memperingati Hari Ikrar Gerakan Pramuka.
Di kota-kota besar, ikrar itu diucapkan di lapangan megah dengan pengeras suara dan seragam baru yang mengkilap. Namun di Dusun Tandipura, Desa Binuang, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, ikrar itu diucapkan dalam sunyi — di bawah cahaya pelita.
Video viral 25 Juli lalu masih membekas. Dua pemuda harus mendorong motor di lumpur sedalam betis hanya untuk sampai ke dusun yang berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut itu. Jawaban warga begitu datar: “Kami memang belum pernah dapat listrik sejak dulu.” Penerangan hanya mengandalkan genset diesel kecil yang solarnya harus dibeli ke bawah dengan medan yang sama rusaknya.
Dasa Darma yang Sudah Mereka Praktekkan
Kita mengajarkan anak Pramuka untuk cinta alam, disiplin, dan berani.
Anak-anak di Tandipura tidak perlu buku saku untuk itu. Mereka mempraktekkannya setiap hari. Cinta alam karena hidup di tengah hutan. Disiplin karena harus berjalan kiloan meter ke sekolah. Berani karena harus melewati jalan lumpur yang orang kota pun enggan lewati.
Lalu apa yang sudah kita berikan?
Bupati Polman H. Samsul Mahmud patut diapresiasi karena mau turun langsung menembus jalan rusak ekstrem di Ratte, Tutar dengan mobil 4×4. Pemkab juga sudah MoU dengan STTD Bekasi untuk penguatan SDM transportasi. Itu sinyal bahwa pemerintah mau melihat langsung.
Tapi pekerjaan rumah kita masih ada di atas awan.
Jika jembatan di Pussui, Luyo saja bisa dibangun lewat gotong royong TNI dan warga hingga syukuran bersama di atas terpal biru, seharusnya semangat yang sama bisa membawa terang ke Tandipura.
Solusi Tidak Harus Selalu Tarik Kabel
Alasan medan sulit dan anggaran besar memang masuk akal. Tapi tahun 2026 tidak bisa terus berlindung di balik alasan itu.
Pertama, PLTS Komunal. Satu dusun satu Pembangkit Listrik Tenaga Surya 20 KWP anggarannya tidak lebih mahal dari satu acara seremonial di kota. Itu cukup untuk lampu belajar dan cas HP anak sekolah.
Kedua, CSR yang Tepat Sasaran. Polman punya banyak perusahaan. Daripada CSR hanya menjadi spanduk di acara kota, arahkan untuk dusun 3T seperti Tandipura.
Ketiga, Gerakan Pramuka Masuk 3T. Mumpung 30 Juli, ini momentum Kwarcab Polman membuat program nyata: Kemah Bakti Terang Tandipura. Bukan hanya upacara, tapi aksi.
Ikrar Pramuka bukan hanya diucapkan di lapangan. Ikrar itu harus dibuktikan dengan keberpihakan pada anak-anak yang paling pinggir.
Selamat Hari Ikrar Gerakan Pramuka. Jangan biarkan anak-anak kita mengikrarkan “Ikhlas Bakti Bina Bangsa” sambil menahan perih mata karena asap pelita.
Sudah 81 tahun merdeka. Masa iya untuk sekadar menyalakan lampu belajar saja mereka harus menunggu 81 tahun lagi?
Editor: Redaksi publiknews.co.id

