Penulis: Haduade Channel
Jika di pusat Kota Polewali lampu jalan sudah pakai LED dan kafe sudah pakai wifi 100 Mbps, di Dusun Tandipura, Desa Binuang, Kecamatan Binuang, Polman, malam masih ditemani pelita.
Video yang viral 25 Juli kemarin itu bukan konten settingan. Dua pemuda harus mendorong motor di lumpur sedalam betis hanya untuk sampai ke dusun yang berada di ketinggian 1.200 MDPL. Sesampainya di sana, warga bilang santai: “Kami memang belum pernah dapat listrik sejak dulu.”
Yang mereka punya hanya genset kecil pakai solar. Tidak semua rumah punya. Solarnya mahal, harus beli ke bawah dengan medan yang sama rusaknya. Ironisnya, ini terjadi di tahun 2026.
Kita Terlalu Sibuk di Bawah
Kita di bawah terlalu sibuk. Sibuk membahas bantuan UMKM 26 orang di Kelurahan Polewali, sibuk dengan seremonial kenal pamit Kapolres, sampai lupa ada dusun di atas awan yang belum merdeka dari gelap.
Pemkab Polman baru saja MoU dengan STTD Bekasi untuk penguatan SDM transportasi. Bagus. Bupati Samsul Mahmud juga sudah turun langsung lihat jalan rusak ekstrem di Ratte, Tutar pakai Land Cruiser. Itu juga bagus. Artinya pemerintah mau melihat langsung.
Tapi pertanyaannya, kapan giliran Tandipura dilihat dengan kacamata yang sama? Jalan lumpur itu adalah alasan kenapa tiang listrik tak bisa naik. Listrik tak ada, ekonomi tak jalan. Lingkaran setan kemiskinan 3T.
Solusi Tidak Harus Selalu Tarik Kabel PLN
Kita tidak bisa terus beralasan “medan sulit”. Jika kabel PLN memang butuh puluhan miliar untuk naik ke gunung, kenapa tidak pakai skema lain?
1. Solar Cell Komunal: Di Matangnga saja Pemkab gerak cepat saat longsor Mei lalu. Kenapa tidak gerak cepat juga untuk PLTS komunal di Tandipura? Satu dusun satu PLTS 20 KWP cukup untuk lampu dan cas HP anak sekolah.
2. Dana CSR yang Tepat Sasaran: Polman punya banyak perusahaan. Daripada CSR hanya jadi spanduk di acara kota, arahkan untuk Tandipura.
3. Skema Listrik Desa Berbasis Adat: Libatkan warga jaga dan rawat. Warga di sana sudah terbiasa hidup susah, mereka pasti bisa merawat.
Jika Desa Pussui di Luyo saja bisa syukuran jembatan Perintis Garuda karena kerja bareng TNI dan warga di atas terpal biru, seharusnya semangat yang sama bisa bawa terang ke Tandipura.
Merdeka itu bukan hanya upacara di Alun-alun. Merdeka itu ketika anak-anak di Tandipura bisa belajar di malam hari tanpa batuk karena asap pelita.
Sudah 81 tahun. Jangan biarkan mereka menunggu 81 tahun lagi untuk sekedar menyalakan lampu.

