Close Menu
Publik NewsPublik News
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • Info Desa
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • Info Desa
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Beranda » Blog » Kemarau Membara, Listrik Padam, Sumur Kering: Sulawesi di Lingkaran Krisis Iklim
    OPINI

    Kemarau Membara, Listrik Padam, Sumur Kering: Sulawesi di Lingkaran Krisis Iklim

    September 3, 2026
    Facebook WhatsApp Twitter Telegram
    Share
    Facebook WhatsApp Twitter Email

    Pasangkayu – publiknews.co.id- Kemarau tahun 2026 di Pulau Sulawesi bukan lagi sekadar musim. Ia telah berubah menjadi krisis berlapis: langit yang kering, tanah yang membara, listrik yang padam bergilir, dan kekeringan yang meluas di mana-mana.

    Kita sedang berada dalam satu lingkaran yang saling mengunci. Dan pusatnya ada di Sulawesi Barat.

    Data per 28 Agustus 2026 mencatat sedikitnya 3.000 titik panas terpantau di wilayah Sulawesi Barat, dengan 155 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah berdampak hingga ke permukiman warga. Di Sulawesi Utara, kebakaran melanda 5 hektare lahan di Minahasa, sementara di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, 3 hektare lahan hangus di Desa Tellumpanua.

    Penyebabnya klasik namun mematikan: kemarau panjang membuat vegetasi kering menjadi bahan bakar. Satu kelalaian kecil, baik dari pembukaan lahan dengan cara bakar maupun puntung rokok, langsung menjadi bencana besar.

    Ketika Waduk Kering, Lampu Pun Padam

    Dampak kemarau tidak berhenti di lahan. Ia merambat hingga ke ruang keluarga kita melalui pemadaman listrik bergilir.

    Sejak Minggu malam 30 Agustus hingga 3 September 2026, Makassar dan sebagian besar wilayah Sulselrabar mengalami pemadaman bergilir. PLN UID Sulselrabar menyebutnya sebagai pengaturan beban dan pemeliharaan infrastruktur.

    Namun penjelasan yang lebih jujur datang dari Sekretaris Daerah Sulsel, Jufri Rahman. Ia menyebut PLTA Bakaru dan Waduk Bili-Bili mengalami penurunan tinggi muka air yang signifikan akibat kemarau.

    Padahal, sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan bergantung 33 persen pada pasokan PLTA. Ketika debit air surut, sistem kehilangan penopang utamanya. Pasokan berkurang hingga 125 MW. PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir dengan estimasi 2 jam di setiap wilayah untuk menjaga kestabilan sistem.

    Alternatifnya adalah menghidupkan PLTD berbahan bakar solar, yang biaya operasionalnya jauh lebih mahal. Inilah ironi energi kita: saat sumber energi termurah (air) hilang, kita harus memilih antara rugi atau memadamkan lampu rakyat.

    Dampaknya berantai. Di Pasangkayu dan Mamuju, pemadaman listrik berarti pompa air tidak menyala, PDAM tidak mengalir, dan sumur-sumur warga yang sudah dangkal akibat kekeringan semakin kering. UMKM yang mengandalkan freezer dan alat produksi harus berhenti. Anak sekolah belajar dalam gelap.

    Ini Bukan Takdir, Ini Gagal Antisipasi

    BMKG Stasiun Meteorologi Wilayah IV Makassar sejak April 2026 sudah memprediksi kemarau tahun ini akan datang lebih awal dan bersifat di bawah normal (lebih kering). Artinya, kita punya waktu 4 bulan untuk bersiap.

    Namun yang terjadi adalah kita tetap reaktif.

    Pertama, kita gagal menjaga hulu. Waduk Bili-Bili dan Bakaru tidak hanya kekurangan hujan, tapi juga kehilangan kemampuan menyimpan air karena daerah tangkapan air di pegunungan yang terus terdegradasi. Tanpa hutan, hujan yang sedikit pun langsung mengalir ke laut.

    Kedua, kita gagal melakukan diversifikasi energi. Selama puluhan tahun kita tahu ketergantungan 33 persen pada PLTA sangat berisiko di musim kemarau, namun pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lahan-lahan kering Sulawesi yang justru melimpah sinar mataharinya berjalan sangat lambat.

    Ketiga, pencegahan karhutla masih sebatas imbauan. Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka sudah menegaskan agar petani dan pekebun tidak membuka lahan dengan cara membakar. Namun tanpa solusi dan insentif bagi petani kecil, larangan itu hanya menjadi teks di spanduk. Posko didirikan setelah ribuan titik api menyala.

    Tiga Tuntutan di Musim Kering

    Agar lingkaran krisis ini tidak berulang setiap tahun dengan skala yang lebih besar, ada tiga hal mendesak yang harus dilakukan:

    1. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten harus membangun ketahanan air dari desa. Bukan hanya proyek bendungan besar, tapi embung, sumur resapan, dan gerakan reboisasi hulu dengan tanaman produktif yang memberi nilai ekonomi bagi warga. 2. PLN harus mempercepat transisi energi yang adil. Kemarau adalah momentum untuk tenaga surya. Potensi surya di Sulawesi Barat dan Selatan sangat tinggi. Saat air tidak ada, matahari ada. Keduanya harus saling menopang, bukan saling menggantikan. 3. Masyarakat harus menjadi pemadam pertama. Jangan membakar dalam bentuk apapun. Satu laporan dini tentang asap kepada BPBD atau pemerintah desa jauh lebih efektif daripada satu mobil pemadam yang datang setelah api membesar.

    Kemarau kali ini adalah peringatan keras bahwa krisis iklim bukan lagi isu global di televisi, melainkan pemadaman di rumah kita, asap di kebun kita, dan sumur kering di halaman kita.

    Jika kita melupakannya saat hujan nanti turun, maka tahun depan kita akan kembali menulis berita yang sama: titik api bertambah, waduk surut, dan lampu kembali padam bergilir.

    Penulis adalah warga Pasangkayu, Sulawesi Barat dan pengelola Haduade Channel.

    Share. Facebook WhatsApp Telegram Email Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    MEDIA LOKAL BUKAN MUSUH PEMERINTAH

    September 3, 2026 OPINI

    Jalan dan Drainase Kelurahan Baras, Kapan Warga Merasakan Pembangunan?

    September 1, 2026 OPINI

    Tanah Jarang Sulawesi Barat, Berkah atau Bom Waktu? Potensi Raksasa Mamuju di Ujung Tombak

    Agustus 31, 2026 OPINI
    PUBLIK UPDATE

    Dugaan Penyimpangan Dana Sekolah SMAN 14 Wajo

    Agustus 14, 2026

    Ketua IJS Pasangkayu Turun Investigasi Dugaan Limbah PT Palma Sumber Lestari, Temukan Fakta Berbeda dari Klaim Humas

    Agustus 10, 2026

    Polda Sulbar Tahap II Tersangka Manajer Palma Sumber Lestari ke Kejari Pasangkayu

    Agustus 12, 2026

    Ismi Ulfaida, Wakili Sulbar di Paskibraka Nasional HUT ke-81 RI 

    Agustus 18, 2026

    Andri Prayoga Putra Singkarru Penuhi Janji Saat Reses di Sarjo

    Agustus 14, 2026
    INFO DESA
    Info Desa
    Info Desa September 1, 2026

    Galung Tuluk, Tradisi Maulid yang Tak Pernah Padam

    September 1, 2026 Info Desa

    Catatan : Abdul Rajab Abduh Derap kaki kuda memecah suasana sore di Desa Galung Tuluk,…

    Pemdes Bonne – Bonne Realisasikan Pembangunan Talud di Dusun Pullipe 

    Juli 31, 2026

    Ratusan Hektar Sawah Kekeringan di Polman, Bupati Siap Tangani

    Juli 30, 2026

    Transparansi Dana Desa: Fondasi Kepercayaan dan Kemajuan Desa

    Juli 13, 2026
    PUBLIK POPULAR
    PENERBIT : PT PUBLIK PERSADA MEDIA GROUP
    Logo Publik News
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Tentang Kami
    • Pedoman Siber
    • Redaksi
    • Publik News
    © 2026 PUBLIK NEWS by GUZTY.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.