Close Menu
Publik NewsPublik News
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • Info Desa
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • Info Desa
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Beranda » Blog » Di Balik Hijau Sawit Pasangkayu: Ketika Janji Kesejahteraan Tersandung Sengketa Lahan
    OPINI

    Di Balik Hijau Sawit Pasangkayu: Ketika Janji Kesejahteraan Tersandung Sengketa Lahan

    September 6, 2026
    Facebook WhatsApp Twitter Telegram
    Oplus_131072
    Share
    Facebook WhatsApp Twitter Email

    Oleh: Hamsyah HD.                            Redaksi Publiknews.co.id

    Kabupaten Pasangkayu sering digadang-gadang sebagai lumbung kelapa sawit di Sulawesi Barat. Di atas kertas, kehadiran perusahaan-perusahaan besar, termasuk raksasa seperti grup Astra, seharusnya menjadi lokomotif ekonomi yang mengangkat derajat masyarakat lokal. Namun, realitas di lapangan seringkali bercerita lain. Di balik hijaunya hamparan kebun yang menjanjikan devisa, tersimpan bara sengketa lahan yang hingga kini belum juga menemukan titik terang.

    Sengketa lahan antara masyarakat adat/lokal dengan perusahaan perkebunan bukan lagi hal baru. Namun, yang menjadi pertanyaan mendasar adalah: mengapa pola ini terus berulang?

    Masyarakat setempat kerap merasa bahwa proses pembebasan lahan di masa lalu dilakukan tanpa transparansi penuh. Ada narasi kuat di akar rumput bahwa batas-batas wilayah adat tumpang tindih dengan izin konsesi perusahaan. Ketika masyarakat mencoba menyuarakan haknya, mereka sering kali dihadapkan pada tembok birokrasi yang kaku dan dalil-dalil legalitas sertifikat yang seolah tak terbantahkan. Padahal, bagi masyarakat lokal, tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan identitas dan sumber kehidupan turun-temurun.

    Kehadiran perusahaan sekelas grup Astra seharusnya membawa standar tata kelola (Good Corporate Governance) yang lebih tinggi. Kita tahu bahwa grup ini memiliki komitmen global terhadap prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). Namun, komitmen global tersebut akan terasa hambar jika di tingkat tapak—di Pasangkayu ini—masih terdengar keluhan-keluhan tentang ketidakadilan pembagian manfaat dan ketegangan sosial akibat klaim lahan.

    Perusahaan mungkin merasa telah membayar kompensasi sesuai aturan pemerintah saat itu. Tapi, apakah aturan tersebut sudah cukup adil bagi pemilik lahan asli? Apakah ada mekanisme dialog yang benar-benar setara, ataukah hanya formalitas satu arah?

    Sengketa yang berlarut-larut bukanlah tanda kekuatan perusahaan, melainkan celah risiko reputasi dan operasional. Konflik lahan yang tidak ditangani dengan pendekatan manusiawi dan solutif berpotensi menghambat produktivitas kebun itu sendiri. Siapa yang rugi pada akhirnya? Bukan hanya masyarakat yang kehilangan akses ke tanah leluhurnya, tetapi juga perusahaan yang operasinya terus dibayangi oleh ketidakpastian hukum dan resistensi sosial.

    Kami di publiknews.co.id menilai bahwa sudah saatnya ada “reset” dalam hubungan antara perusahaan sawit dan masyarakat di Pasangkayu. Tidak perlu menunggu konflik membesar menjadi kekerasan. Perusahaan besar perlu proaktif membuka ruang audit sosial independen. Verifikasi ulang batas lahan dengan melibatkan tokoh adat, pemerintah daerah, dan pihak netral bisa menjadi jalan tengah.

    Bagi perusahaan, menyelesaikan sengketa lahan bukan berarti mengakui kesalahan masa lalu, melainkan investasi untuk stabilitas masa depan. Bagi pemerintah daerah, ini adalah ujian integritas: apakah mereka berdiri di sisi rakyatnya atau hanya menjadi penonton pasif bagi investor?

    Sengketa lahan di Pasangkayu adalah cermin. Jika kita ingin industri sawit benar-benar menjadi berkah, maka keadilan harus diletakkan di atas meja perundingan, bukan disembunyikan di balik tumpukan dokumen legalitas. Masyarakat Pasangkayu menunggu bukti nyata bahwa kesejahteraan bukan sekadar slogan di brosur perusahaan, tapi terasa di setiap rumah warga yang tanahnya menjadi bagian dari rantai pasok global.(*)

    Share. Facebook WhatsApp Telegram Email Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Kemarau Membara, Listrik Padam, Sumur Kering: Sulawesi di Lingkaran Krisis Iklim

    September 3, 2026 OPINI

    MEDIA LOKAL BUKAN MUSUH PEMERINTAH

    September 3, 2026 OPINI

    Jalan dan Drainase Kelurahan Baras, Kapan Warga Merasakan Pembangunan?

    September 1, 2026 OPINI
    PUBLIK UPDATE

    Dugaan Penyimpangan Dana Sekolah SMAN 14 Wajo

    Agustus 14, 2026

    Ketua IJS Pasangkayu Turun Investigasi Dugaan Limbah PT Palma Sumber Lestari, Temukan Fakta Berbeda dari Klaim Humas

    Agustus 10, 2026

    Polda Sulbar Tahap II Tersangka Manajer Palma Sumber Lestari ke Kejari Pasangkayu

    Agustus 12, 2026

    SD Inpres 5 Birobuli Gelar Peringatan Maulid Nabi, Bangun Karakter Siswa Teladani Rasulullah

    September 5, 2026

    Ismi Ulfaida, Wakili Sulbar di Paskibraka Nasional HUT ke-81 RI 

    Agustus 18, 2026
    INFO DESA
    Info Desa
    Info Desa September 1, 2026

    Galung Tuluk, Tradisi Maulid yang Tak Pernah Padam

    September 1, 2026 Info Desa

    Catatan : Abdul Rajab Abduh Derap kaki kuda memecah suasana sore di Desa Galung Tuluk,…

    Pemdes Bonne – Bonne Realisasikan Pembangunan Talud di Dusun Pullipe 

    Juli 31, 2026

    Ratusan Hektar Sawah Kekeringan di Polman, Bupati Siap Tangani

    Juli 30, 2026

    Transparansi Dana Desa: Fondasi Kepercayaan dan Kemajuan Desa

    Juli 13, 2026
    PUBLIK POPULAR
    PENERBIT : PT PUBLIK PERSADA MEDIA GROUP
    Logo Publik News
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Tentang Kami
    • Pedoman Siber
    • Redaksi
    • Publik News
    © 2026 PUBLIK NEWS by GUZTY.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.