Close Menu
Publik NewsPublik News
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • DAERAH
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • DAERAH
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • OPINI
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Beranda » Blog » Ketika Sungai Menyimpan Nafas Terakhir Sang Buaya
    News

    Ketika Sungai Menyimpan Nafas Terakhir Sang Buaya

    Mei 5, 2026
    Facebook WhatsApp Twitter Telegram
    Share
    Facebook WhatsApp Twitter Email

    Sang fajar bahkan belum benar-benar lahir ketika kabut tipis masih menggantung di atas Sungai Mandar. Airnya tenang, nyaris seperti kaca yang memantulkan langit kelabu. Di tepian, seorang perempuan berjalan perlahan bersama ayahnya, menapaki jalan setapak yang sudah akrab sejak kecil. Subuh baru saja usai; suara azan masih terasa menggema di ingatan, bercampur dengan desir arus sungai yang pelan.


    Perempuan itu awalnya hanya ingin mengambil batu kerikil dengan perahu kecil mereka. Rutinitas sederhana yang tak pernah terasa istimewa, hingga pagi itu menjadi berbeda.
    Di kejauhan, sesuatu tampak mengapung.


    “Bapak, itu apa?” tanyanya, suaranya setengah berbisik, seolah takut mengganggu kesunyian.
    Sang ayah menyipitkan mata, mencoba menembus kabut yang belum sepenuhnya tersibak. Mereka mendekat beberapa langkah. Air beriak kecil ketika sesuatu itu perlahan berputar, memperlihatkan bagian tubuh yang tak biasa.
    Bukan kayu. Bukan pula bangkai ternak.
    Itu seekor buaya.


    Tubuhnya besar, mengapung tanpa daya, perutnya menghadap ke atas, kaku dalam diam. Sisik-sisiknya yang biasanya tampak kokoh kini terlihat pucat, seakan kehilangan seluruh kekuatannya. Sungai yang selama ini menjadi rumahnya, kini menjadi tempat peristirahatan terakhir.
    Perempuan itu spontan mundur selangkah, napasnya tertahan. Ada rasa takut yang datang terlambat, setelah kesadaran menyusul penglihatan.
    “Sudah mati,” ujar sang ayah pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
    Tak ada gerakan. Tak ada tanda kehidupan. Hanya arus yang sesekali menggoyang tubuh besar itu, seperti mengantar ke mana pun sungai ingin membawanya.
    Pagi perlahan membuka mata. Cahaya keemasan mulai menembus kabut, menyingkap pemandangan yang tadi samar. Sungai Mandar, yang biasanya riuh oleh aktivitas warga. Dan tawa kini menyimpan kisah lain: tentang seekor penguasa air yang tumbang dalam diam.
    Kabar itu cepat menyebar. Warga berdatangan, berdiri di tepian dengan jarak aman. Ada yang berbisik, ada yang berspekulasi. Sebagian menyebut karena terkena letusan pelor, sebagian lagi menduga racun atau konflik di habitat. Namun, tak satu pun yang benar-benar tahu pasti.
    Di antara kerumunan itu, perempuan tadi berdiri kembali, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Ketakutan yang sempat muncul telah berubah menjadi semacam keheningan batin. Ia memandang buaya itu bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari alam yang sedang menyelesaikan siklusnya.
    Sang ayah menepuk bahunya pelan.
    “Hidup di sungai ini, semua punya waktunya,” katanya.
    Air terus mengalir, seolah tak peduli pada apa pun yang terjadi di permukaannya. Namun pagi itu, Sungai Mandar menyimpan satu cerita yang akan terus diingat, tentang pertemuan tak terduga antara manusia dan alam, tentang kematian yang datang tanpa suara, dan tentang fajar yang mengajarkan bahwa setiap kehidupan, sekokoh apa pun, pada akhirnya akan kembali pada sunyi.(**)

    Tulisan diatas dirangkai dalam sebuah cerita pendek penemuan seekor buaya yang terapung di sungai mandar. //Sumber : media sosial.

    #buaya_sungaimandar
    Share. Facebook WhatsApp Telegram Email Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Ari Lasso Pukau Ribuan Warga di Malam Penutupan HUT ke-48 Kota Palu

    Oktober 1, 2026 DAERAH

    Muhammad Sabir Ukir Prestasi, Wasit Asal Sulbar Bertugas di Asian Games Jepang 2026

    September 30, 2026 News

    Polairud Polres Pasangkayu Tangani Penemuan Pria Gantung Diri di Pantai Batu Oge

    September 30, 2026 News
    PUBLIK UPDATE

    SD Inpres 5 Birobuli Gelar Peringatan Maulid Nabi, Bangun Karakter Siswa Teladani Rasulullah

    September 5, 2026

    Seorang Wartawan Ditemukan Meninggal Dikamar Kos di Pasangkayu, Polisi Datangi TKP

    September 6, 2026

    Persahabatan Tumbuh di Meja Pingpong Yasaka 

    September 10, 2026

    Galung Tuluk, Tradisi Maulid yang Tak Pernah Padam

    September 1, 2026

    Di Balik Hijau Sawit Pasangkayu: Ketika Janji Kesejahteraan Tersandung Sengketa Lahan

    September 6, 2026
    INFO DESA
    Info Desa
    Info Desa September 1, 2026

    Galung Tuluk, Tradisi Maulid yang Tak Pernah Padam

    September 1, 2026 Info Desa

    Catatan : Abdul Rajab Abduh Derap kaki kuda memecah suasana sore di Desa Galung Tuluk,…

    Pemdes Bonne – Bonne Realisasikan Pembangunan Talud di Dusun Pullipe 

    Juli 31, 2026

    Ratusan Hektar Sawah Kekeringan di Polman, Bupati Siap Tangani

    Juli 30, 2026

    Transparansi Dana Desa: Fondasi Kepercayaan dan Kemajuan Desa

    Juli 13, 2026
    PUBLIK POPULAR
    banner iklan pasang disini
    PENERBIT : PT PUBLIK PERSADA MEDIA GROUP
    Logo Publik News
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Tentang Kami
    • Pedoman Siber
    • Redaksi
    • Publik News
    © 2026 PUBLIK NEWS by GUZTY.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.