Polewali Mandar — Di tepian Pantai Mampie, suara ombak berpadu dengan tawa warga yang sibuk bereksperimen dengan dedaunan dan bunga. Bukan sedang menghias taman, melainkan menciptakan karya unik dari alam: sabun mangrove dan totebag eco-printing.

Kegiatan yang berlangsung di Rumah Penyu Pantai Mampie ini menjadi wujud nyata penerapan konsep Blue Economy, sebuah gagasan untuk mengelola sumber daya pesisir secara berkelanjutan sambil membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Di balik kegiatan ini, berdiri tim dosen Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR): Alexander Kurniawan Sariyanto Putera, Isdaryanti, dan Akbar Indrawan Saudi.
Mereka hadir bukan hanya membawa ilmu, tapi juga semangat untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap potensi alam di sekitar mereka.
“Pelatihan ini mengajarkan bahwa keindahan bisa lahir dari alam sekitar kita tanpa bahan kimia berbahaya. Selain bernilai seni, produk ini juga memiliki nilai jual yang baik,” jelas Alex, sang penggagas kegiatan.
Selama pelatihan, warga diajak memanfaatkan dedaunan, bunga, hingga bahan alami dari ekosistem mangrove untuk menciptakan pola unik pada kain. Teknik eco-printing ini menghasilkan totebag dengan motif alami yang tak hanya indah, tetapi juga ramah lingkungan. Setiap corak bagaikan jejak tangan alam yang hidup di atas kanvas kain.
Tak berhenti di situ, warga juga belajar membuat sabun tematik bertema penyu dan lingkungan. Produk kebersihan ini bukan sekadar sabun biasa; bentuk dan aromanya menggambarkan simbol konservasi satwa penyu yang menjadi ikon Pantai Mampie.
Salah satu peserta, Salmawati, tampak antusias saat mencoba hasil buatannya. “Saya sangat senang ikut kegiatan ini karena bisa jadi peluang bisnis bagi saya secara pribadi,” ujarnya dengan mata berbinar. “Saya juga sudah coba sabunnya, Alhamdulillah aman, tak kalah sama sabun mandi pada umumnya,” tambahnya sambil tersenyum.
Bagi Alex dan timnya, kegiatan ini bukan hanya soal pelatihan keterampilan, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran baru. “Kami ingin menunjukkan bahwa menjaga alam bisa sekaligus menjadi peluang usaha. Ketika masyarakat kreatif mengolah sumber daya sekitar dengan bijak, mereka tidak hanya melindungi lingkungan, tetapi juga menciptakan ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya.
Ke depan, UNSULBAR berencana memberikan pendampingan lanjutan dan pelatihan digital marketing agar produk-produk ramah lingkungan dari Mampie bisa dikenal lebih luas, baik di pasar lokal maupun platform daring.
Dengan semangat kolaborasi antara UNSULBAR, Komunitas Sahabat Penyu, dan masyarakat pesisir, Dusun Mampie kini mulai menapaki jalannya menuju desa ekowisata berbasis konservasi. Sebuah tempat di mana alam dijaga, seni tumbuh, dan ekonomi bergerak selaras dengan keseimbangan birunya laut.(**)

