Di balik gegap gempita wisuda dan senyum bangga para keluarga, suasana Gedung Gabungan Dinas (Gadis) Polewali Mandar, Jumat 28 November 2025, terasa lebih hangat dari biasanya.

Bukan hanya karena gaun toga dan jubah akademik yang mewarnai ruang itu, tetapi juga karena napas religius yang mengalun dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Universitas Islam DDI A.G.H Abdurrahman Ambo Dalle memadukan momentum kelulusan dengan refleksi keteladanan Rasulullah, dua peristiwa yang seolah saling menguatkan makna.
Di tengah ruangan yang dipenuhi harapan baru itu, Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Salim S Mengga, hadir bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai seorang pendidik yang ingin menanamkan nilai. Ketika ia didaulat memberikan hikmah Maulid, suasana mendadak hening sebuah tanda bahwa para hadirin siap menyimak sesuatu yang lebih dari sekadar sambutan formal.
Nabi Muhammad SAW dan Lahirnya Peradaban Baru.
Dalam tutur yang lembut namun tegas, Salim mengingatkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah titik berseminya peradaban yang menjunjung tinggi kejujuran, kasih sayang, dan kemuliaan akhlak. Ia menekankan bahwa nilai-nilai itu bukan sekadar pelajaran agama, tetapi fondasi bagi siapa pun yang ingin hidup terhormat dan profesional.
“Kalau menurutmu berdusta itu buruk, maka jangan lakukan,” ujarnya sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatan pesan tersebut kejujuran adalah akar yang harus ditanam, bukan sekadar slogan yang diulang.
Ia juga menyebut amanah, kepedulian sosial, dan kecerdasan emosional sebagai pilar karakter generasi muda. Pilar-pilar inilah yang menurutnya akan menjadi pelindung ketika lulusan menghadapi dunia nyata dengan segala tekanan dan tuntutannya.
Wisuda: Gerbang, Bukan Puncak
Di hadapan para wisudawan yang sebagian besar masih memandang masa depan dengan mata berbinar, Salim memberi pengingat penting: perjalanan baru saja dimulai.
“Ilmu yang kalian dapatkan hari ini baru sebatas ijazah. Tantangan sebenarnya ada di luar sana. Teruslah belajar dan memperkaya pengalaman,” pesannya, menggugah kesadaran bahwa ijazah hanyalah tiket masuk, bukan jaminan sukses.
Ia pun menitipkan sebuah prinsip yang sederhana namun kerap dilupakan banyak pemimpin: integritas.
“Jika suatu saat kalian menjadi pemimpin, jangan makan yang bukan makananmu, dan jangan mengambil sesuatu yang bukan hakmu,” tegasnya. Bukan hanya untuk memotivasi, tetapi sebagai peringatan dini bagi calon pemegang tanggung jawab publik.
Apresiasi untuk Para Pendidik
Tak lupa, momen itu juga menjadi panggung penghormatan bagi para dosen terbaik Universitas Islam DDI A.G.H Abdurrahman Ambo Dalle. Salim menyerahkan piagam penghargaan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi mereka para penggerak sunyi yang setiap hari membangun masa depan tanpa banyak sorotan.
Ia mengapresiasi komitmen universitas yang dinilainya mampu menggabungkan keunggulan akademik dengan kekuatan nilai-nilai keislaman. Sebuah kombinasi yang menurutnya sangat penting, terutama di zaman ketika kecerdasan saja tak cukup tanpa karakter.
Antara Tradisi dan Harapan
Ramah tamah wisuda yang dirangkai dengan peringatan Maulid ini menghadirkan paduan yang jarang ditemui: selebrasi pencapaian intelektual yang dibingkai oleh pesan moral dan spiritual. Para lulusan meninggalkan gedung Gadis bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa pesan untuk menjadi manusia yang utuh terdidik, berakhlak, dan bermanfaat.
Wisuda kali ini bukan hanya tentang menatap masa depan, tetapi juga tentang menengok kembali jejak Rasulullah sebagai kompas. Dan di antara tepukan tangan serta rangkaian ucapan selamat, pesan Wakil Gubernur itu mengendap seperti doa: semoga para lulusan benar-benar menjadi cahaya baru bagi masyarakat.(**)


