Polewali Mandar, 11 November 2025 — Pagi di Dusun Lappingan, Desa Sambaliwali, terasa berbeda dari biasanya. Embun yang baru saja luruh di pucuk daun seolah berkilau menyambut langkah-langkah tamu agung yang datang. Di tengah hamparan alam hijau dan desau angin lembut, warga berduyun-duyun berkumpul, mengenakan busana terbaik mereka dengan wajah-wajah penuh semangat dan harap.

Hari itu, bukan hanya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang menyatukan mereka, tetapi juga momentum bersejarah: Launching program inovasi Pelayanan Desa Mobile Sambaliwali. Sebuah langkah maju yang menandai bagaimana desa kecil di pelosok Luyo ini berani bermimpi besar di tengah kemajuan zaman.

Sorak gembira pecah ketika Bupati Polewali Mandar, H. Samsul Mahmud, tiba di lokasi acara. Beliau disambut hangat oleh Kepala Desa Sambaliwali, Hernawati, dengan pengalungan sarung sutra Mandar, lambang kehormatan dan penghargaan tertinggi masyarakat Mandar terhadap tamunya.
Tak lama kemudian, suasana berubah menjadi meriah. Denting rebana dan irama syair Kalindaqdaq menggema di udara, menandai tibanya 25 ekor kuda Saeyyang Pattuduq atau kuda penari yang menjadi kebanggaan budaya Mandar. Gerak mereka gemulai, menghentak bumi dengan keanggunan yang menakjubkan. Bupati Samsul Mahmud tampak tersenyum lebar ketika ia menggunting pita tanda dimulainya Pelayanan Desa Mobile, seolah pada saat itu juga, sebuah babak baru pelayanan publik di Polewali Mandar resmi dimulai.
Dalam sambutannya, Bupati Samsul Mahmud menyampaikan apresiasi yang tulus.
“Program ini adalah bentuk nyata inovasi desa yang luar biasa. Sambaliwali telah menunjukkan bahwa pelayanan bisa hadir sampai ke pintu rakyatnya. Ini harus menjadi contoh bagi desa-desa lain di Polewali Mandar,” ujarnya lantang, disambut tepuk tangan panjang masyarakat.
Namun, di balik gegap gempita itu, terselip pula suara harapan. Kepala Desa Hernawati dengan penuh hormat menyampaikan aspirasi warganya tentang pembangunan infrastruktur jalan yang selama ini menjadi kerinduan panjang. Senyum sang bupati meneduhkan, disertai janji yang membawa kabar baik.
“Kami akan memprioritaskan pembangunan jalan di Sambaliwali. Apalagi, di sini juga akan dibangun Sekolah Rakyat,” tutur beliau disambut sorak bahagia warga.
Ketika matahari mulai condong ke barat, gema tabuhan rebana masih mengalun dari pengeras suara. Anak-anak berlarian, kuda-kuda masih menari, dan di tengah keramaian itu, Desa Sambaliwali seolah berbisik lembut: hari ini bukan sekadar perayaan maulid, tetapi hari kelahiran harapan baru, harapan akan desa yang lebih melayani, lebih maju, dan lebih bermartabat.(**)

