Close Menu
Publik NewsPublik News
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • Info Desa
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Publik NewsPublik News
    • Home
    • News
    • Nasional
    • Info Desa
    • Pemerintah
    • Politik
    • Ekonomi
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Pendidikan
    Beranda » Blog » Jejak Seratus Hari: Menyulam Harapan di Tanah Mandar
    News

    Jejak Seratus Hari: Menyulam Harapan di Tanah Mandar

    Juli 27, 2025
    Facebook WhatsApp Twitter Telegram
    Share
    Facebook WhatsApp Twitter Email

    Catatan : Abdul Rajab Abduh

    Di bawah langit yang mengambang di atas tanah Mandar, waktu berjalan dalam irama yang pelan tapi pasti. Seratus hari telah berlalu sejak H. Samsul Mahmud dan Andi Nursami Masdar menapakkan kaki di panggung pemerintahan Polewali Mandar. Seratus hari yang bukan sekadar hitungan tanggal dalam almanak, melainkan perjalanan batin dan tekad politik yang mengawali babak baru bagi tanah yang kaya sejarah ini.

    Pada hari pertama, langkah mereka tak ditandai dengan gegap gempita, tetapi dengan sapaan sunyi rakyat yang menaruh harap pada bahu dua pemimpin ini. Di hadapan wajah-wajah petani di pegunungan, nelayan di pesisir, guru-guru yang mengabdi di pelosok, dan ibu-ibu yang setia menanak harapan, mereka berjanji bukan dengan kata, tapi dengan kerja.

    Samsul Mahmud, seorang politisi sejati dengan pengalaman panjang dalam menahkodai panggung politik, hadir dengan ketenangan seorang ayah yang ingin membenahi rumahnya sendiri. Di sisi lain, Andi Nursami Masdar, sosok perempuan tangguh yang telah menempuh jalan panjang dalam pengabdian, membawa kepekaan dan ketegasan sebagai pemimpin rakyat. Duet ini, seolah menggabungkan logika pemerintahan dan rasa keibuan, menyatu dalam satu perahu bernama Polewali Mandar.

    Dalam seratus hari ini, geliat perubahan mulai terasa. Pelayanan publik perlahan dibenahi, birokrasi disegarkan, dan komunikasi antar instansi mulai mengalir tanpa hambatan. Beberapa pelayanan terpadu satu pintu dipermudah, menjadi lebih ramah bagi masyarakat yang sebelumnya lelah bertanya pada dinding.

    Di sektor pertanian dan perikanan nadi utama ekonomi rakyat pemimpin ini memulai dengan mendengar. Mereka turun ke sawah, menepi di dermaga, menyerap cerita dan keluhan yang tak terliput dalam dokumen-dokumen resmi. Di sanalah, arah kebijakan dirumuskan: bukan dari balik meja, tapi dari tanah yang dipijak rakyat.

    Di tengah dinamika anggaran yang terbatas, mereka memilih langkah kecil tapi terukur. Program penguatan UMKM mulai dirintis, dan perhatian kepada generasi muda kembali dikuatkan. Seratus hari memang terlalu dini untuk menagih janji besar, tapi cukup untuk melihat ke arah mana perahu ini diarahkan.

    Tidak semuanya mulus. Ada kritik, ada suara sumbang yang mempertanyakan arah dan kecepatan. Tapi, bukankah pemerintahan yang baik justru harus tumbuh di antara suara yang beragam? Samsul dan Nursami tidak menutup telinga. Dalam beberapa forum, mereka memilih hadir, mendengar langsung, bahkan menerima protes dengan kepala tegak.

    Yang paling mengesankan dalam seratus hari ini adalah kehadiran mereka yang nyata bukan hanya dalam berita resmi, tapi dalam denyut hidup masyarakat. Mereka hadir di sawah, di sekolah, di pasar, dan di rumah-rumah ibadah. Bukan untuk simbol, tapi sebagai tanda bahwa pemerintahan ini ingin berjalan bersama rakyat, bukan di atasnya.

    Kini, seratus hari telah berlalu. Waktu akan terus bergulir, dan ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Tapi di tanah Mandar yang penuh semangat dan nilai budaya, pemimpin yang hadir dengan niat baik dan kerja nyata tak akan berjalan sendiri. Mereka akan didorong, dikritik, bahkan dipeluk oleh rakyatnya selama niat itu tetap jernih dan langkah tetap setia di jalan yang benar.

    Seratus hari bukan akhir, tapi sulaman benang-benang harapan pertama. Polewali Mandar menanti lembar-lembar berikutnya, dan rakyat akan mencatat  bukan dengan tinta, tapi dengan hidup mereka sendiri.

    ( #abdulrajababduh*)

     

    #polewalimandar
    Share. Facebook WhatsApp Telegram Email Twitter Copy Link

    Berita Terkait

    Penagihan & Penyegelan Kios Dan Ruko Pasar Niaga Daya, AK-Law Firm Laporkan Perumda Pasar Makassar ke Polda Sulsel

    Agustus 18, 2026 News

    Ismi Ulfaida, Wakili Sulbar di Paskibraka Nasional HUT ke-81 RI 

    Agustus 18, 2026 News

    Peringati HUT ke-81 RI, Kapolres Luwu Utara Tekankan Pentingnya Pengabdian dan Profesionalisme Polri

    Agustus 18, 2026 News
    PUBLIK UPDATE

    Heboh! Honor Operator SDN 003 Kandeapi Diduga Disunat, Rekening Koran BOS Bongkar Pembayaran Tunai Janggal

    Juli 27, 2026

    Masyarakat Adat Desak Dilibatkan Sebagai Subjek Utama di Tengah Konflik Lahan 4 Perusahaan Astra Group di Pasangkayu

    Juli 23, 2026

    Ketua IJS Pasangkayu Turun Investigasi Dugaan Limbah PT Palma Sumber Lestari, Temukan Fakta Berbeda dari Klaim Humas

    Agustus 10, 2026

    L-KONTAK: Dugaan Saja Tidak Cukup, Status SHM Pasar Raya Makassar Harus Diuji Mekanisme Hukum

    Juli 31, 2026

    Dugaan Penyimpangan Dana Sekolah SMAN 14 Wajo

    Agustus 14, 2026
    INFO DESA
    Info Desa
    Info Desa Juli 31, 2026

    Pemdes Bonne – Bonne Realisasikan Pembangunan Talud di Dusun Pullipe 

    Juli 31, 2026 Info Desa

    Polewali Mandar, 30 Juli 2026,— Untuk melindungi akses warga, Pemerintah Desa Bonne-Bonne berencana merealisasikan pembangunan…

    Ratusan Hektar Sawah Kekeringan di Polman, Bupati Siap Tangani

    Juli 30, 2026

    Transparansi Dana Desa: Fondasi Kepercayaan dan Kemajuan Desa

    Juli 13, 2026

    Warga Harapkan Pengaspalan Jalan Balintuma, Akses Penghubung Antar Desa

    Juli 3, 2026
    PUBLIK POPULAR
    PENERBIT : PT PUBLIK PERSADA MEDIA GROUP
    Logo Publik News
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Tentang Kami
    • Pedoman Siber
    • Redaksi
    • Publik News
    © 2026 PUBLIK NEWS by GUZTY.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.