PUBLIKNEWS.CO.ID, MAJENE – Gema takbir yang membahana di seluruh penjuru Tanah Mandar tidak hanya merayakan berakhirnya Ramadan, tetapi juga menjadi saksi dedikasi yang tak lekang oleh waktu. Di balik hangatnya silaturahmi, ada tangan-tangan renta yang telah melampaui usia seratus tahun—para tetua adat—yang masih lincah menganyam janur, merawat warisan leluhur yang tak ternilai.
Bagi masyarakat Mandar, lebaran adalah simfoni budaya. Di tangan para lansia ini, daun kelapa disulap menjadi ketupat-ketupat berbentuk sempurna, sebuah keahlian yang diturunkan sejak berabad-abad lalu sejak Islam menyapa bumi Sulawesi Barat. Meski fisik tak lagi muda, ketelitian dan kesabaran mereka dalam memasak ketupat dan buras adalah simbol filosofi ketahanan yang sesungguhnya.
“Membuat ketupat bukan sekadar memasak, ini adalah cara kami merawat warisan orang tua dan menjaga persaudaraan,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Metode tradisional yang dipertahankan oleh para tetua ini menghasilkan ketupat yang legit dan tahan berhari-hari, cerminan dari semangat Sipamandaq (persaudaraan kuat) yang terus dijaga oleh masyarakat Mandar. Di hari yang fitri ini, kuliner khas menjadi jembatan yang menghubungkan ketaatan spiritual dengan kekayaan tradisi nenek moyang.
Hingga hari ini, tradisi yang lestari di tangan para lansia ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam dan kearifan lokal dapat tumbuh subur secara berdampingan.
Tentang Masyarakat Mandar
Masyarakat Mandar adalah suku bangsa yang mendiami sebagian besar wilayah Sulawesi Barat. Dikenal dengan tradisi bahari yang kuat dan ketaatan beragama, suku Mandar memiliki kekayaan kuliner dan adat istiadat yang tetap terjaga di tengah arus modernisasi.

