<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>#buaya_sungaimandar Arsip - Publik News</title>
	<atom:link href="https://www.publiknews.co.id/tag/buaya_sungaimandar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.publiknews.co.id/tag/buaya_sungaimandar/</link>
	<description>Media Publik Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 May 2026 02:34:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2025/05/cropped-LOGO-PAV-PUBLIK-NEWS-32x32.png</url>
	<title>#buaya_sungaimandar Arsip - Publik News</title>
	<link>https://www.publiknews.co.id/tag/buaya_sungaimandar/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Sungai Menyimpan Nafas Terakhir Sang Buaya</title>
		<link>https://www.publiknews.co.id/ketika-sungai-menyimpan-nafas-terakhir-sang-buaya/</link>
					<comments>https://www.publiknews.co.id/ketika-sungai-menyimpan-nafas-terakhir-sang-buaya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[News]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 May 2026 02:34:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[#buaya_sungaimandar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.publiknews.co.id/?p=4764</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sang fajar bahkan belum benar-benar lahir ketika kabut tipis masih menggantung di atas Sungai Mandar. Airnya tenang, nyaris seperti kaca yang memantulkan langit kelabu. Di tepian, seorang perempuan berjalan perlahan bersama ayahnya, menapaki jalan setapak yang sudah akrab sejak kecil. Subuh baru saja usai; suara azan masih terasa menggema di ingatan, bercampur dengan desir arus [...]</p>
<p>Artikel <a href="https://www.publiknews.co.id/ketika-sungai-menyimpan-nafas-terakhir-sang-buaya/">Ketika Sungai Menyimpan Nafas Terakhir Sang Buaya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.publiknews.co.id">Publik News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em><strong>Sang fajar bahkan belum benar-benar lahir ketika kabut tipis masih menggantung di atas Sungai Mandar. Airnya tenang, nyaris seperti kaca yang memantulkan langit kelabu. Di tepian, seorang perempuan berjalan perlahan bersama ayahnya, menapaki jalan setapak yang sudah akrab sejak kecil. Subuh baru saja usai; suara azan masih terasa menggema di ingatan, bercampur dengan desir arus sungai yang pelan.</strong></em></p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-4769" src="https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_100856-300x197.jpg" alt="" width="300" height="197" srcset="https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_100856-300x197.jpg 300w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_100856-768x504.jpg 768w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_100856-150x98.jpg 150w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_100856-450x295.jpg 450w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_100856.jpg 981w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><br />
Perempuan itu awalnya hanya ingin mengambil batu kerikil dengan perahu kecil mereka. Rutinitas sederhana yang tak pernah terasa istimewa, hingga pagi itu menjadi berbeda.<br />
Di kejauhan, sesuatu tampak mengapung.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-4766" src="https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_101604-300x211.jpg" alt="" width="300" height="211" srcset="https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_101604-300x211.jpg 300w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_101604-768x540.jpg 768w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_101604-150x105.jpg 150w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_101604-450x316.jpg 450w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/IMG_20260505_101604.jpg 921w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><br />
<em>“Bapak, itu apa?” tanyanya, suaranya setengah berbisik, seolah takut mengganggu kesunyian.</em><br />
<em>Sang ayah menyipitkan mata, mencoba menembus kabut yang belum sepenuhnya tersibak. Mereka mendekat beberapa langkah. Air beriak kecil ketika sesuatu itu perlahan berputar, memperlihatkan bagian tubuh yang tak biasa.</em><br />
Bukan kayu. Bukan pula bangkai ternak.<br />
Itu seekor buaya.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-4767" src="https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Screenshot_2026-05-05-10-15-13-908-edit_com.facebook.lite_-300x255.jpg" alt="" width="300" height="255" srcset="https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Screenshot_2026-05-05-10-15-13-908-edit_com.facebook.lite_-300x255.jpg 300w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Screenshot_2026-05-05-10-15-13-908-edit_com.facebook.lite_-1024x869.jpg 1024w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Screenshot_2026-05-05-10-15-13-908-edit_com.facebook.lite_-768x652.jpg 768w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Screenshot_2026-05-05-10-15-13-908-edit_com.facebook.lite_-150x127.jpg 150w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Screenshot_2026-05-05-10-15-13-908-edit_com.facebook.lite_-450x382.jpg 450w, https://www.publiknews.co.id/wp-content/uploads/2026/05/Screenshot_2026-05-05-10-15-13-908-edit_com.facebook.lite_.jpg 1080w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><br />
Tubuhnya besar, mengapung tanpa daya, perutnya menghadap ke atas, kaku dalam diam. Sisik-sisiknya yang biasanya tampak kokoh kini terlihat pucat, seakan kehilangan seluruh kekuatannya. Sungai yang selama ini menjadi rumahnya, kini menjadi tempat peristirahatan terakhir.<br />
Perempuan itu spontan mundur selangkah, napasnya tertahan. Ada rasa takut yang datang terlambat, setelah kesadaran menyusul penglihatan.<br />
“Sudah mati,” ujar sang ayah pelan, lebih kepada dirinya sendiri.<br />
Tak ada gerakan. Tak ada tanda kehidupan. Hanya arus yang sesekali menggoyang tubuh besar itu, seperti mengantar ke mana pun sungai ingin membawanya.<br />
Pagi perlahan membuka mata. Cahaya keemasan mulai menembus kabut, menyingkap pemandangan yang tadi samar. Sungai Mandar, yang biasanya riuh oleh aktivitas warga. Dan tawa kini menyimpan kisah lain: tentang seekor penguasa air yang tumbang dalam diam.<br />
Kabar itu cepat menyebar. Warga berdatangan, berdiri di tepian dengan jarak aman. Ada yang berbisik, ada yang berspekulasi. Sebagian menyebut karena terkena letusan pelor, sebagian lagi menduga racun atau konflik di habitat. Namun, tak satu pun yang benar-benar tahu pasti.<br />
Di antara kerumunan itu, perempuan tadi berdiri kembali, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Ketakutan yang sempat muncul telah berubah menjadi semacam keheningan batin. Ia memandang buaya itu bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari alam yang sedang menyelesaikan siklusnya.<br />
Sang ayah menepuk bahunya pelan.<br />
“Hidup di sungai ini, semua punya waktunya,” katanya.<br />
Air terus mengalir, seolah tak peduli pada apa pun yang terjadi di permukaannya. Namun pagi itu, Sungai Mandar menyimpan satu cerita yang akan terus diingat, tentang pertemuan tak terduga antara manusia dan alam, tentang kematian yang datang tanpa suara, dan tentang fajar yang mengajarkan bahwa setiap kehidupan, sekokoh apa pun, pada akhirnya akan kembali pada sunyi.(**)</p>
<p>Tulisan diatas dirangkai dalam sebuah cerita pendek penemuan seekor buaya yang terapung di sungai mandar. //Sumber : media sosial.</p></blockquote>
<p>Artikel <a href="https://www.publiknews.co.id/ketika-sungai-menyimpan-nafas-terakhir-sang-buaya/">Ketika Sungai Menyimpan Nafas Terakhir Sang Buaya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://www.publiknews.co.id">Publik News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.publiknews.co.id/ketika-sungai-menyimpan-nafas-terakhir-sang-buaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
