Catatan : Abdul Rajab Abduh
Di ujung barat Kabupaten Polewali Mandar, sebuah jalan poros tak sekadar membelah hutan dan perkampungan. Ia juga membelah harapan. Jalan penghubung dari Desa Poda-Poda menuju Desa Pao-Pao, yang mengaitkan Kecamatan Tutar dan Kecamatan Alu, kini menjadi cerita panjang tentang perjuangan warga melawan lumpur dan waktu.

Panjangnya sekitar 15 kilometer. Namun di antara bentangan itu, sekitar empat kilometer masih berupa jalan tanah yang mudah berubah menjadi kubangan saat hujan turun. Bagi warga, musim hujan bukan hanya soal basah dan dingin, melainkan juga tentang akses yang terputus, roda kendaraan yang terjebak, serta jarak yang terasa berlipat ganda.
“Kalau hujan, motor sering tergelincir. Mobil sudah pasti tidak bisa lewat,” kata seorang warga yang saban hari melintasi jalur itu untuk mengantar hasil kebun. Jalan ini adalah nadi ekonomi: jalur pengangkutan hasil pertanian menuju pasar. Ketika lumpur menguasai jalan, nadi itu tersumbat.

Masalah tak berhenti di sana. Jembatan yang menghubungkan Lombang–Pumbejagi, sebagai akses utama bagi warga menuju pusat layanan dan aktivitas ekonomi, juga membutuhkan perhatian. Jembatan ini menjadi simpul penting mobilitas masyarakat, terutama bagi pelajar, pedagang, dan petani. Tanpa jembatan yang layak, perjalanan menjadi lebih berisiko dan memakan waktu.
Kepala Desa Poda-Poda, Sinardi, menyuarakan harapan warganya agar pemerintah kabupaten dan provinsi memberi perhatian serius. “Kami berharap ada perbaikan jalan poros Tutar–Alu dan pembangunan jembatan Lombang–Pumbejagi. Ini kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya. Harapan itu bukan sekadar permintaan infrastruktur, melainkan ikhtiar membuka akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang lebih baik.
Di daerah seperti Polewali Mandar, jalan bukan hanya soal aspal dan beton. Ia adalah penghubung mimpi, antara desa dan kota, antara hasil kebun dan pasar, antara hari ini yang penuh lumpur dan esok yang diharapkan lebih lapang. Warga Tutar–Alu menunggu: kapan doa mereka berwujud jalan yang bisa dilalui tanpa cemas, jembatan yang kokoh menyeberangkan masa depan.(arja)

